KELASKU DI BALIK JENDELA
Oleh: Badrudin el-Mayou
Di balik jendela, saya melihat kelasku tertata rapi, deretan meja dan kursi tersusun rapi, goresan tinta di papan tulis sebagai saksi para guru, ahli waris dan penerus estafet dakwah para Nabi dalam mengajar dan mendidik generasi Rabbani. Hiasan ombak laut di dinding mengajarkan kami untuk tetap tegar dalam mengarungi samudera ilmu.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian
bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”
Kata mutiara inilah yang menjadi dasar muridku melukiskan ombak laut di dinding kelas pada agenda lomba “Kelas Kreatif”. Kata mutiara ini mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan, tak kenal lelah dan menyerah, meskipun harus banjir keringat dan berdarah-darah. Jangan pernah bosan untuk berjuang meraih kesuksesan. Ingat! Nahkoda yang handal tidak lahir dari ombak yang tenang. Saatnya kita ubah dari malas menjadi rajin, lambat menjadi tepat, lemah menjadi kuat. Berjuang dan terus istiqamah menapaki jendela kehidupan.
Sembilan Umar, nama kelasku. Seperti sosok Umar bin Khattab yang gagah dan berani. Selain ibadahnya yang luar biasa, beliau juga dikenal sebagai sosok pemberani, tegas dan keras yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan Islam di dunia. Disegani kawan dan ditakuti lawan, bahkan setan pun lari terbirit-birit hanya melihat bayangan Umar mendekat.
Saya pun melihat pada diri murid-murid jejak Umar bin Khattab. Ada yang menjadi ketua BEM, wakil BEM, ROHIS, ketua angkatan, juara umum angkatan bahkan dua murid di antara mereka telah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz, dan masih banyak lagi bakat serta potensi membanggakan yang melekat kuat pada diri mereka.
“Tak ada gading yang tak retak. Tidak ada sesuatu yang sempurna. Ada kelebihan pasti ada kekurangan, begitu pun sebaliknya ada kebaikan ada juga keburukan.”
Tak dapat dipungkiri bahwa murid-murid juga terkadang tidur di saat belajar, ngobrol, bercanda, makan di kelas, menyimpan sampah bukan pada tempatnya, dan melakukan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Kepala botak menjadi lampu peringatan agar bisa lebih waspada dan sadar akan perbuatan buruk tersebut. Semua hal yang buruk tidak bisa dihilangkan kecuali diri kita sendiri yang mengubahnya. Seperti firman Allah ﷻ,
Artinya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat manusia itu sebagai orang yang berhak mendapatkan kenikmatan (kebaikan, kebahagiaan, dan kesuksesan) penuh, karena pada dasarnya mereka adalah suci sebagaimana Allah
ﷻ berfirman,
Artinya: “… (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” (QS. Ar-Rum: 30)
Dalam sebuah hadits Rasulullah
ﷺ bersabda,
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci” (HR. Bukhari).
Lantas, apa yang membuat kita tidak dapat mencapai keberhasilan dan kesuksesan yang telah Allah anugerahkan pada setiap diri manusia? Na’am, jawabannya adalah karena perilaku buruk dan kezhaliman yang kita perbuat, sehinga mendatangkan murka Allah dan menjauhkan dari rahmat-Nya.
Back to
kelasku. Terkadang kita hanya fokus memikirkan dan mencela jendela yang lama tertutup, kotor, buram, dan penuh debu tanpa ada usaha untuk membersihkan dan menghilangkan debu-debu pekat yang menempel di kaca jendela tersebut, padahal masih banyak kaca jendela lain yang bersih, bening dan terbuka lebar untuk menatap pemandangan yang sangat indah dan cerah.
Terkadang kita terlalu lama melihat hal-hal negatif pada diri seseorang. Mencela dan men-judgement seakan-akan tidak ada kebaikan pada dirinya, padahal setiap sesuatu pasti ada kelebihan masing-masing. Dalam syair arab dikatakan,
“Laa tahtaqir man dunaka falikulli syain maziyyatun”
Allah ﷻ juga telah menegaskan dalam firmannya,
Artinya: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy-Syams: 8 )
Tugas guru tidak hanya bertugas bagaimana caranya membuat anak pintar. Tapi bagaimana seorang guru bisa memberikan sisi afektif kepada muridnya. Contoh, guru selalu memarahi murid yang tidak mematuhi aturan. Tetapi, guru cenderung cuek dan bersikap biasa saja ketika mereka melakukan kebaikan atau ketertiban. Guru kadang mengabaikan perilaku positif murid. Kita berpendapat itu memang seharusnya kamu lakukan tanpa memberinya apresiasi, padahal dengan acungan jempol saja kita sudah menghargai mereka.
Tidak perlu pujian berlebihan, cukup kita katakan: “Good, Mumtaz, Mantap” sudah termasuk memberikan apresiasi kepada mereka. Ketika anak-anak merasa dihargai, dimotivasi dan diberikan kata-kata positif, maka sedikit demi sedikit akan menghilangkan perilaku negatif pada anak dan menumbuhkan rasa percaya diri. Tidak hanya itu, perilaku positifnya pun akan menetap dan pada akhirnya kemampuan akedemiknya akan meningkat.
Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Meskipun kita telah berupaya maksimal memberikan yang terbaik kepada murid-murid tercinta. Segala aturan sudah ditetapkan, reward dan punishment sudah dijalankan. Namun, ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka sesungguhnya hanya Allah lah yang Maha Kuasa atas segalanya.
Allah ﷻ berfirman,
Artinya: “…
dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar… (QS. Al-Anfal: 17)
Dalam sebuah tafsir, ayat ini menjelaskan berkaitan dengan peristiwa segenggam pasir yang ditaburkan Nabi
ﷺ ke arah wajah orang-orang kafir dalam Perang Badar, yaitu ketika beliau keluar dari Al-‘Arisy setelah beliau berdoa dan memohon kepada Allah dengan rendah diri dan khusyuk. Beliau melempar mereka dengan segenggam pasir itu seraya bersabda, “Mudah-mudahan mata-mata mereka kelilipan.” Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan pasukannya untuk membuktikan hal tersebut dengan menelusuri jejaknya, lalu mereka melakukan apa yang diperintahkannya. Ternyata Allah menyampaikan pasir itu ke mata semua kaum musyrik, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka melainkan terkena oleh pasir tersebut. Yakni, Allahlah yang menyampaikan pasir itu ke mata mereka dan yang membuat mereka semua kelilipan, bukan kamu, hai Muhammad.
Dalam ayat lain
Allah ﷻ juga berfirman,
Artinya: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS. Al-An’am: 125)
Syaikh Jalaluddin al-Mahalli dan Syekh Jalaluddin as-Syuyuthi dalam tafsir Jalalainnya menjelaskan bahwa siapa yang Allah kehendakii untuk memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam, yaitu dengan cara menyinarkan nur hidayah ke dalam dadanya sehingga dengan sadar ia dapat menerima Islam dan membuka dadanya lebar-lebar untuk menerimanya.
Setelah kita membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor dan buram. Setelah kita melihat perubahan dan potensi yang ada pada diri murid. Baik itu kelebihan, kebaikan, dan prestasi, pertanyaan selanjutnya adalah mampukah guru istiqamah dalam menebarkan cahaya kebaikan dan murid membuka jendela hati untuk mendapatkannya?
Leave a Comment