JAM HALAL
oleh: Badrudin el-Mayou
Pernahkah Anda berada dalam antrean panjang? Entah itu saat menunggu giliran makan, berwudu, mandi, atau keperluan lainnya? Di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja, mengantre bukan sekadar rutinitas berdiri mematung, melainkan sebuah budaya yang sarat akan makna dan pembelajaran hidup. Dari kebiasaan sederhana ini, para siswa dilatih untuk bersabar, mengendalikan emosi, mendahulukan hak orang lain, menahan ego, serta belajar menghargai dan mengatur waktu dengan baik.
Budaya antre menciptakan kedisiplinan dan ketertiban. Siapa yang ingin berada di urutan pertama tentu harus datang lebih awal. Sebaliknya, ketika datang terlambat, kita tidak boleh menyerobot antrean karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk dilayani sesuai urutannya.
Agar tidak merasa kesal atau bosan saat menunggu antrean—terlebih ketika berada di posisi paling belakang—waktu yang ada dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti muroja’ah hafalan Al-Qur’an, menghafal vocabulary bahasa asing, membaca buku, dan yang paling utama adalah berzikir kepada Allah. Dengan demikian, antrean yang panjang pun tidak akan terasa melelahkan karena waktu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
الْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan terus berjalan tanpa pernah berhenti. Jika tidak diisi dengan hal-hal yang produktif dan penuh kebaikan, maka waktu akan berlalu sia-sia dan pada akhirnya merugikan diri sendiri.
Kini saatnya para murid mengantre mengambil jatah makan di dapur. Aroma lezat makanan melayang di udara, menambah semangat para murid yang siap berbaris menunggu giliran. Dapur SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja tampak bersih dan rapi. Setiap hari disajikan menu makanan yang lezat, higienis, dan bergizi untuk menunjang kesehatan para murid.

Beberapa petugas piket dapur terlihat sigap melayani para murid yang datang membawa peralatan makan masing-masing. Mereka mengantre dengan tertib sambil menjaga adab dan kedisiplinan. Setelah selesai makan, setiap murid juga diajarkan untuk bertanggung jawab membuang sampah sisa makanan pada tempatnya. Sikap ini menjadi bentuk kepedulian dan kerja sama dalam membantu meringankan tugas petugas dapur menjaga kebersihan ruang makan.
Ada fenomena unik, ketika semua murid ingin berada di barisan terdepan saat mengantre. Namun, ada seorang murid yang justru selalu datang paling akhir. Kenapa, ya?
Apakah karena ia malas mengantre? Tidak.
Apakah karena sibuk dengan kegiatan lain? Tidak.
Apakah karena ketiduran sehingga terlambat ke dapur? Tidak.
Apakah karena sedang sakit sehingga tidak bisa segera mengantre? Juga tidak.

Ahmad nama panggilannya. Siapa yang tidak mengenalnya? Tubuhnya big size, pembawaannya ramah, dan wajahnya hampir selalu dihiasi senyuman. Dalam bidang akademik, semangatnya mungkin tidak terlalu menonjol, tetapi untuk urusan catur, ia sangat antusias mengikuti berbagai kejuaraan.
Ada satu kebiasaan unik dari Ahmad. Ketika murid lain sibuk mengantre mengambil jatah makan, Ahmad justru santai menunggu sambil sesekali bertanya kepada petugas piket dapur, “Sudah jam halal belum, Ustadz?”
Ternyata, Ahmad sengaja tidak ikut mengantre karena menunggu “jam halal”, yaitu waktu ketika antrean sudah selesai dan sisa makanan yang masih ada boleh dinikmati sepuasnya. Baginya, menunggu “jam halal” adalah strategi paling jitu daripada harus berdesakan di barisan antrean.
Dari kisah Ahmad, kita belajar bahwa dalam kehidupan ada saatnya harus sabar mengantre dan ada pula saatnya tidak harus mengantre. Semua memiliki cara masing-masing selama tetap tertib dan tidak merugikan orang lain.
Nah, kalau kalian sendiri bagaimana? Termasuk tipe yang semangat berada di barisan paling depan atau justru seperti Ahmad yang setia menunggu “jam halal”? Hehe.
eL Mayou -Guru PAI SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja-
Leave a Comment