I WANT TO HELP YOU
Oleh: Badrudin el Mayou
“Assalamu’alaikum, Ustadz Badru. Sudah ditunggu di kelas.”
“Sini, Ustadz. Saya bawakan laptopnya,” pinta sang murid.
Hanif, nama panggilannya, murid kelas 8 Umar. Orangnya baik, kalem, dan selalu berada di saf terdepan saat salat berjamaah. Sudah menjadi rutinitas, ketika taklim bahasa berlangsung, dia selalu membantu membawakan peralatan media ajar yang dibutuhkan di kelas.
SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja memiliki program unggulan untuk menunjang kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Oleh karena itu, para murid diharapkan aktif dan mahir berbahasa asing. Program tersebut disebut “Halbas” (Halaqah Bahasa) yang dilaksanakan tiga kali dalam sepekan setelah Salat Isya.
Saya dan Hanif pun bergegas menuju kelas. Kini saatnya pembelajaran dimulai.

“Okay, read and memorize the conversation text. If you are ready, you can perform it with your partner in front of the class.”
Jika murid sudah hafal dan maju ke depan untuk menyetorkan tugas hafalan kosa kata atau percakapan bersama temannya, mereka diperbolehkan pulang lebih dulu. Semua murid berlomba-lomba agar cepat maju dan bisa segera kembali ke asrama.
Namun, Hanif tidak seperti murid lainnya. Dia tampak santai dan justru memilih setoran paling akhir. Ia tidak terburu-buru untuk pulang.
“Kenapa, ya?” batinku penasaran.
Pembelajaran pun selesai. Saya lalu bertanya kepadanya,
“Hanif, why do you come first but leave last?”
Jawaban Hanif sangat sederhana, tetapi membuat saya terkagum mendengarnya.
“I want to help you bring the laptop and the other things.”
Masya Allah, kebaikannya begitu sederhana, tetapi sangat membekas di hati.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa murid yang ingin mendapatkan keberkahan ilmu harus menghormati dan memuliakan gurunya. Saya pun selalu mengingat kebaikannya dan mendoakan keberkahan untuknya.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata,
أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا إنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ
“Saya adalah hamba sahaya bagi siapapun yang mengajariku satu huruf. Terserah dia mau menjual saya, atau mau memerdekakan saya, atau mau tetap menjadikan saya sebagai hamba sahayanya.”
Masya Allah. Begitu tinggi penghormatan sayyidina Ali kepada gurunya. Walaupun hanya mengajarkannya satu huruf, akan beliau muliakan, sebagaimana seorang budak memuliakan tuannya. Memuliakan guru merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Perlu ditekankan, tentunya menjadi hamba bagi guru kita adalah dalam konteks makna positif. Jangan sampai menjadi salah kaprah dalam memaknai dan memahaminya.
Dengan memuliakan guru, tidak hanya akan mendapatkan ilmu. Namun, akan mendapatkan keberkahan dan kemanfaatan. Begitu juga sebaliknya, orang yang tidak memuliakan gurunya maka akan sulit untuk mendapatkan ilmu dan keberkahannya.
Kebaikan sekecil apa pun dapat membekas di hati, apalagi kebaikan yang besar dan istimewa. Kebaikan juga dapat menghapus keburukan. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, semakin banyak pula keburukan yang akan terhapus.
So, let’s spread kindness.
By the way, Sudahkah kita memuliakan guru dan menebar kebaikan hari ini?
el Mayou -Guru PAI SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja-
Leave a Comment