
Selama ini, kecerdasan sering kali dipersempit pada capaian akademik dan kemampuan kognitif semata. Padahal, kecerdasan emosional memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk pribadi individu dalam mencapai perkembangan yang optimal. Kecerdasan emosional (emotional intelligence) merujuk pada kemampuan individu untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat, baik emosi diri sendiri maupun emosi orang lain. Kecerdasan emosional berkaitan erat dengan kesadaran diri (self-awareness), pengendalian diri (self-regulation), motivasi diri, empati, serta keterampilan sosial (Goleman, 1995).
Goleman (1995) menempatkan self-awareness sebagai komponen pertama dan paling mendasar dalam kecerdasan emosional. Self-awareness (kesadaran diri) merupakan kemampuan induvidu mengenali apa yang sedang ia rasakan, pikirkan, dan lakukan, serta memahami dampaknya terhadap diri sendiri dan orang lain. Individu yang memiliki self-awareness yang baik cenderung lebih mampu mengelola emosi, mengendalikan perilaku impulsif, dan membangun hubungan sosial yang positif.
Konsep self-awareness selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya refleksi diri. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat tersebut menegaskan pentingnya evaluasi dan kesadaran diri, sehingga seseorang sadar akan tindakannya dan dampak yang akan ditimbulkannya. Self-awareness dalam ayat tersebut bukan sekedar psikologis, melainkan sebagai bentuk kesadaran penuh seorang hamba akan kondisi batin, emosi, sikap diri, dan tanggung jawabnya di hadapan Allah yang menjadi langkah awal menuju perbaikan diri dan ketakwaan.
Pada masa remaja, peserta didik berada pada fase perkembangan emosi yang dinamis dan belum sepenuhnya stabil (Hurlock, 2011). Tanpa pendampingan yang tepat, peserta didik berisiko mengalami kebingungan emosi, konflik sosial, serta kesulitan beradaptasi dalam lingkungan belajar. Oleh karena itu, self-awareness menjadi kebutuhan mendasar yang perlu difasilitasi dalam proses pengembangan kecerdasan emosional peserta didik. Dalam layanan bimbingan dan konseling (BK) pendekatan yang efektif, aman, dan menyenangkan untuk menumbuhkan self-awareness pada peserta didik, dapat dilaksanakan melalui layanan bimbingan kelompok.

Bimbingan kelompok merupakan layanan Bimbingan dan Konseling yang memanfaatkan dinamika kelompok untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya (Prayitno, 2004). Melalui interaksi kelompok, peserta didik belajar menyadari pengalaman emosionalnya sekaligus memahami bahwa pengalaman tersebut juga dialami oleh orang lain. Proses ini menumbuhkan rasa aman, empati, dan keterbukaan yang menjadi prasyarat berkembangnya self-awareness.
Layananan bimbingan kelompok dapat berjalan efektif, aman, dan menyenangkan jika dilaksanakan melalui metode dan teknik yang tepat. Beberapa metode bimbingan kelompok yang biasa diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling diantaranya: diskusi kelompok, sosiodrama dan role play, problem solving, karya wisata, home room program, ekspositori, serta simulasi dan permainan.

Dalam meningkatkan pengembangan self-awareness metode permainan dinilai efektif dalam praktik bimbingan kelompok karena bersifat partisipatif, ekspresif, dan tidak menghakimi. Metode ini kerap kali diaplikasikan di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja sebagai metode yang efektif dan menyenangkan dalam layanan bimbingan kelompok tematik. Suwarjo (2016) menjelaskan bahwa permainan dalam layanan BK mampu menurunkan resistensi peserta didik dan memfasilitasi pembelajaran afektif melalui pengalaman langsung (experiential learning). Ketika pemahaman terkait self-awareness dikombinasikan dengan metode permainan, bimbingan kelompok tidak hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai laboratorium emosi tempat peserta didik mengalami, merasakan, dan merefleksikan emosi secara langsung.
Melalui permainan seperti cermin diri, kartu emosi, simulasi peran, atau aktivitas reflektif sederhana, peserta didik diajak mengenali perasaan yang muncul, pola reaksi diri, serta nilai-nilai yang memengaruhi sikap mereka. Suasana bermain membuat peserta didik lebih terbuka dan nyaman, sehingga proses pengenalan diri berlangsung secara alami dan bermakna. Dengan demikian, permainan tidak hanya menjadi aktivitas rekreatif, tetapi juga sarana pembelajaran emosional yang efektif.
Kesimpulan
Self-awareness merupakan pondasi utama kecerdasan emosional yang perlu dikembangkan sejak dini pada peserta didik. Praktik bimbingan kelompok yang dikemas secara menyenangkan melalui metode permainan menjadi pendekatan yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran diri secara alami dan bermakna. Dengan dukungan teori psikologi dan penguatan nilai-nilai Al-Qur’an, layanan ini tidak hanya membantu peserta didik memahami emosi dan dirinya, tetapi juga menumbuhkan karakter, empati, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
Hurlock, E. B. (2011). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Prayitno. (2004). Layanan Bimbingan dan Konseling. Padang: Universitas Negeri Padang Press.
Suwarjo. (2016). Bimbingan dan Konseling Perkembangan. Yogyakarta: UNY Press.
Leave a Comment