
Pendidikan Islam memiliki karakteristik yang khas, salah satunya adalah penekanan pada pembentukan akhlak dan adab peserta didik. Dalam perspektif Islam, tujuan utama pendidikan tidak hanya untuk mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang beradab dan bermoral (Najla : 2025)
Namun akhir-akhir ini kita banyak dikejutkan dengan fenomena adab peserta didik kepada guru yang kian menurun, diantaranya insiden pengeroyokan guru oleh siswa yang terjadi akibat guru menegur siswa yang tidak disiplin atau menggunakan kata-kata tidak pantas, kasus guru yang dirundung oleh siswanya, murid mengabaikan arahan, meremehkan nasihat, memperlakukan guru layaknya teman sebaya, serta membicarakan keburukan guru.
Perkembangan teknologi informasi, media sosial serta pengaruh globalisasi telah membawa dampak pada perubahan perilaku peserta didik (Najla : 2025). Apabila tidak segera direspon, fenomena seperti ini akan menjadi ancaman integritas pendidikan karakter di sekolah.Pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi masa depan yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab (Najla : 2025).
Menurut Agus Wibowo (2013 :40 dalam widya Agustin & Astuti Darmayanti, 2023 :553) pendidikan karakter adalah suatu pendidikan yang digunakan untuk menanamkan dan mengembangkan karakter kepada peserta didik, sehingga memiliki karakter yang luhur yang dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat.
Pendidikan karakter memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk adab peserta didik terhadap guru, diantaranya :
Dengan demikian Pendidikan karakter bukan hanya pelengkap tetapi merupakan fondasi utama dalam sistem pendidikan untuk membentuk siswa yang berilmu sekaligus beradab.
Sebagai implementasi nyata pendidikan karakter, SMPIT Assyifa Boarding School Wanareja memiliki visi yaitu “Sekolah Calon Pemimpin yang Berakhlak, Hafiz dan Berprestasi”. Dari visi tersebut terlihat bahwa pembentukan karakter akhlak mulia merupakan fondasi utama sebagai modal dasar untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Salah satu program sebagai implementasi nyata pendidikan karakter adalah penyambutan murid.
Program penyambutan murid menjadi sarana untuk menjalin kedekatan antara peserta didik dan guru. Setiap pagi beberapa guru bertugas secara bergilir untuk menyambut peserta didik dengan ucapan salam dan senyuman hangat begitupun peserta didik dibiasakan untuk menyapa, menjawab salam dan mencium tangan para guru sebelum berangkat ke sekolah.
Tujuan dari program ini adalah terbentuknya karakter islam dan nilai-nilai kesopanan terutama kepada guru serta melatih kedisiplinan karena guru-guru yang bertugas tidak hanya menyambut siswa tetapi juga mengingatkan mereka jika tidak menaati aturan sekolah khususnya dalam hal kerapihan dan ketentuan berpakaian.
Namun demikian, realitas empiris di lapangan menunjukkan bahwa tidak seluruh peserta didik mampu mengimplementasikan program tersebut secara optimal. Masih ditemukan peserta didik yang memasuki lingkungan sekolah tanpa menyapa guru-guru yang bertugas menyambut kedatangan siswa. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara perencanaan program dan praktik aktual di lapangan.
Salah satu faktor teknis yang memengaruhi adalah panjangnya antrean pada saat penyambutan, mengingat posisi guru yang bertugas berada dalam satu barisan yang sama. Situasi tersebut berpotensi menimbulkan kejenuhan dan kecenderungan peserta didik untuk menghindari antrean, sehingga mengurangi partisipasi mereka dalam pelaksanaan program.
Kesadaran mengenai urgensi mengutamakan adab sebelum aspek-aspek lainnya dalam proses pendidikan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses internalisasi nilai yang bertahap dan berkelanjutan. Dalam praktiknya, tidak menutup kemungkinan peserta didik baru menyadari pentingnya adab setelah menghadapi konsekuensi sosial maupun akademik dari perilaku yang kurang mencerminkan sikap hormat terhadap guru. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan kesadaran moral memerlukan pengalaman reflektif yang didukung oleh lingkungan pendidikan yang kondusif.
Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab institusi sekolah beserta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mengimplementasikan program pendidikan karakter secara sistematis, konsisten, dan terintegrasi dalam seluruh aktivitas pembelajaran. Upaya tersebut tidak hanya berorientasi pada kepatuhan terhadap aturan formal, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai moral yang tertanam dalam diri peserta didik.
Dengan implementasi yang optimal, diharapkan peserta didik mampu mengembangkan sikap beradab dalam interaksi sosialnya, baik terhadap guru, teman sebaya, maupun masyarakat secara luas. Pada akhirnya, pendidikan karakter yang terkelola dengan baik akan berkontribusi dalam membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan kematangan sosial.
Daftar Pustaka
Nadhirah, N. (2025). Adab murid terhadap guru dalam pembelajaran. An-najah :Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Agama, 4(2), 285–290. https://journal.nabest.id/index.php/annajah
Widya, A., & Darmayanti, A. (2023). Peran guru dalam implementasi pendidikan karakter sekolah SMP Islam Manbaul Hikmah Luwungragi Brebes. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(4), 552–560. https://doi.org/10.5281/zenodo.7684675
SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja. (2026). Situs resmi SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja. Diambil dari https://smpit-wanareja.assyifa-boardingschool.sch.id/
Leave a Comment