
Bahasa Arab mempunyai peranan penting dalam pergaulan manusia dewasa ini yang telah memasuki dunia globalisasi informasi dan komunikasi. Stigma yang berkembang bahwa mempelajari bahasa Arab dianggap rumit dan sulit bisa jadi guru yang mengajar salah langkah dalam menerapkan strategi dan metode dalam pembelajaran bahasa Arab. Contohnya seperti peserta didik dianjurkan menghafal banyak kosakata (mufradat) setiap hari, atau lebih banyak penekanan pada tata bahasa dan tidak kontekstual sehingga kemampuan peserta didik dalam berbicara dan berkomunikasi sesama teman tidak tercapai.
Keterampilan berbicara dapat diperoleh dengan pembiasaan. Pembiasaan itu sendiri wujud pelaksanaannya latihan berulang kali dalam program revisi termasuk di dalamnya strategi dalam pembelajaran tersebut. Menurut teori Bloomfied (1887-1949) disinergikan dengan teori B. F. Skinner (1904-1990), bahwa pemerolehan bahasa itu mirip dengan pemerolehan kebiasaan lain. Bahasa dinilai sebagai bagian dari kebiasaan atau perilaku bahasa yang diperoleh atau dipelajari oleh anak kecil secara bertahap melalui pendengaran (istima’), peniruan (taqlid), pengulangan (tikrar) hingga bahasa itu dikuasai dengan baik dan menjadi kebiasaan (Qasim, 2000). Untuk memperoleh kecakapan berbahasa dalam proses pembelajaran dan menjadi kebiasaan sehari-hari dalam lingkungannya tentu memerlukan kompetensi guru bahasa Arab yang mempunyai strategi yang inovatif dalam mengajar.

Di sini akan dijelaskan bagaimana strategi pembelajaran berbicara bahasa Arab dengan pendekatan komunikatif untuk peserta didik di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja, kendala yang dihadapi, pemecahan masalah, serta hasil yang dicapai. Diharapkan penjelasan ini dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi guru bahasa Arab yang lain agar lebih memaksimalkan pembelajaran berbicara dengan pendekatan komunikatif.
Ragam Strategi Pembelajaran Inovatif
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada, sumber belajar, kebutuhan peserta didik dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran atau disebut dengan teknik pengajaran adalah operasional dari metode. Karena itu teknik pengajaran berupa rencana, aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang pada praktiknya akan diperankan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas guna mencapai dan merealisasikan tujuan pembelajaran (Hamid, 2008).
Strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara antara lain adalah:
1. Strategi Langsung
Strategi ini bertujuan untuk melatih peserta didik menceritakan apa yang dilihat dalam bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Media yang digunakan dapat berupa gambar, baik yang diproyeksi maupun yang tidak diproyeksikan.
2. Strategi Jigsaw
Strategi ini biasanya digunakan dengan tujuan untuk memahami isi sebuah bacaan secara utuh dengan cara membagi-baginya menjadi beberapa bagian kecil. Masing-masing peserta didik memiliki tugas untuk memahami sebagian isi bacaan tersebut kemudian digabungkan menjadi satu. Dengan cara demikian isi bacaan yang panjang dapat dipahami secara tepat.
3. Strategi Grup Kecil
Dalam strategi ini kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok akan melakukan tugas yang diberikan pengajar. Kemudian hasilnya dipresentasikan di depan kelas, sehingga masing-masing peserta didik akan merasakan pengalaman belajar bersama.
4. Strategi Melihat Gambar
Penggunaan strategi ini di antaranya ditujukan untuk melatih kemampuan peserta didik dalam memahami isi sebuah bacaan kemudian mampu memvisualisasikannya dalam bentuk gambar. Dari gambar tersebut diharapkan semua peserta didik dapat menghafal isi bacaan secara lebih mudah dan ingatan peserta didik terhadap isi bacaan tersebut dapat bertahan lebih lama (Mustofa, 2011).
Strategi-strategi ini sering digunakan oleh penulis dalam mengajarkan keterampilan berbicara bahasa Arab. Peserta didik diminta untuk melakukan percakapan langsung sesuai dengan materi yang diajarkan dan menggunakan kata ganti (dhamir) yang sesuai serta mendemonstrasikannya di depan kelas.
Mengapa Memilih Pendekatan Komunikatif?
Pendekatan Komunikatif (Communicative Language Teaching) menggeser fokus dari “mengetahui bahasa” menjadi “mampu menggunakan bahasa”. Kompetensi komunikatif merupakan kemampuan untuk menerapkan kaidah gramatikal suatu bahasa dalam membentuk kalimat-kalimat yang benar dan untuk mengetahui kapan, di mana, dan kepada siapa kalimat-kalimat itu diujarkan. Dengan berbekal kompetensi komukatif seseorang dapat menyampaikan suatu pesan secara interpersonal dalam konteks spesifik. Krasehan juga menegaskan bahwa kompetensi komunikatif lebih menekankan kepada fungsi bahasa dalam komunikasi sesungguhnya daripada menguasai bentuk dan kaidah kebahasaan.
Menurut Tarigan (1990), kompetensi komunikasi meliputi:
Pada dasarnya pendekatan komunikatif ini merupakan pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih menekankan pembelajaran pada penguasaan kecakapan berbahasa dari pada penguasaan struktur bahasa.

Guru mengajak peserta didik untuk membiasakan diri berbicara dengan bahasa Arab. Meskipun dari segi tata bahasa masih salah, tapi sedikit-sedikit diperbaiki saat pembelajaran atau dikoreksi langsung saat berbicara sehingga peserta didik lebih percaya diri dan mau mencoba untuk berbicara bahasa Arab.
Tantangan dan Solusi Cerdas
Pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab dengan pendekatan komunikatif) yang dilakukan di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja tentu memberikan banyak hal positif. Namun, masih ada kendala yang ditemukan dalam pelaksanaannya. Mendapati adanya permasalahan tersebut, tentu guru dan pihak sekolah di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja tidak tinggal diam. Kendala tersebut segera dicarikan solusinya supaya pembelajaran bisa tetap berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk bisa berbicara bahasa Arab tentu saja harus hafal lebih banyak kosakata. Peserta didik merasa belum bisa berbicara bahasa Arab dikarenakan sedikitnya kosakata yang mereka hafal. Untuk mengatasi masalah ini, guru memberikan kosakata-kosakata yang biasa digunakan sehari-hari sebagai materi tambahan, baik saat apel bahasa maupun saat pembelajaran di kelas.
Selain karena sedikitnya kosakata yang dikuasai, peserta didik juga merasa masih kurang percaya diri berbicara bahasa Arab karena mereka takut salah dalam penerapan kaidah bahasa atau tata bahasa (ilmu nahwu) dan perubahan bentuk kata bahasa Arabnya (ilmu sharaf). Untuk mengatasi masalah ini, guru terus memberikan motivasi terkait mudahnya berbicara bahasa Arab dan tidak usah takut salah, yang penting lawan bicara paham dengan apa yang dibicarakan.

Hasil Nyata yang Dicapai
Penerapan strategi ini telah membuahkan hasil positif bagi ekosistem belajar di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja:
Penutup
Penerapan strategi pembelajaran komunikatif di SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja bukan sekadar upaya meningkatkan nilai akademik di atas kertas. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar kami untuk menghidupkan kembali bahasa Al-Qur’an dan bahasa peradaban dunia di lingkungan sekolah. Kami percaya bahwa bahasa tidak akan pernah hidup jika hanya bersemayam dalam buku teks; bahasa harus dialirkan melalui lisan dan dipraktikkan dalam interaksi sosial yang nyata.
Melalui pendekatan ini, penulis melihat perubahan paradigma pada diri peserta didik. Mereka mulai memandang bahasa Arab bukan sebagai beban hafalan yang kaku, melainkan sebagai alat ekspresi yang dinamis. Rasa takut akan kesalahan tata bahasa (Grammar Anxiety) perlahan berganti menjadi keberanian untuk bereksplorasi. Inilah esensi dari pendidikan bahasa yang sesungguhnya: memberikan “suara” kepada siswa untuk berinteraksi dengan dunia luar.
Tentu perjalanan ini masih panjang dan memerlukan sinergi yang kuat antara guru di kelas, lingkungan boarding yang mendukung, serta motivasi yang terus mengalir. Namun, hasil positif yang mulai terlihat—seperti meningkatnya kepercayaan diri siswa dan suasana sekolah yang lebih bernuansa bahasa Arab—menjadi bahan bakar bagi penulis untuk terus berinovasi.
Kami berharap, strategi yang kami terapkan ini tidak hanya membawa manfaat internal bagi SMPIT As-Syifa, tetapi juga dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi para pegiat bahasa Arab di mana pun berada. Mari kita ubah stigma “sulit” menjadi “asyik”, dan jadikan bahasa Arab sebagai kunci pembuka jendela dunia bagi generasi masa depan.
Daftar Pustaka:
Leave a Comment